Catatan Halal ala Catatan Rasa

Mereview makanan di restoran itu punya tantangan tersendiri. Sebagai seorang muslim, saya percaya untuk mengkonsumsi makanan halal. Problemnya, kita nggak tahu persis mana yang halal dan mana yang tidak. Jika hanya mengandalkan sertifikasi halal, banyak makanan yang sebenarnya halal tapi tidak tersertifikasi. Tentunya, akan lebih baik jika sebuah restoran memiliki sertifikasi halal. Jika sudah ada, saya cukup tenang untuk mengkonsumsinya.

Masalahnya, bagaimana yang tidak memiliki sertifikasi? Apakah itu berarti haram untuk dimakan? Contohnya adalah penjaja makanan di pinggir jalan. Banyak Pedagang Kaki Lima yang mungkin menyajikan masakan halal tapi mereka tidak memiliki pembuktian terhadap kehalalannya. Sementara, syarat makanan halal di sisi lain cukup ketat. Bukan hanya sekedar tidak mengandung babi. Makanan dikatakan halal juga jika tidak mengandung khamr dan darah serta makanan tersebut (jika berupa hewan) disembelih atas nama Allah.

Oleh karenanya, saya mengambil jalan tengah terhadap masalah kehalalan makanan ini. Dan ini adalah patokan pribadi saya dalam mereview sebuah restoran. Beberapa patokan yang saya ambil jika masuk ke dalam restoran/tempat makan yang tidak memiliki sertifikasi halal adalah sebagai berikut :

  1. Jika ada sebuah restoran menuliskan bahwa makanannya halal, saya memilih untuk mempercayainya kecuali ada bukti yang berseberangan. Mungkin itu adalah self claim tanpa adanya audit pihak lain, namun demikian saya anggap cukup.
  2. Jika tidak ada sertifikasi halal namun saya tidak menemukan hal-hal yang ganjil, misalnya rasa makanan yang asing ataupun daftar menu yang mengandung alkohol, maka saya akan menganggapnya cukup.
  3. Mengenai binatang yang disembelih tidak menyebut nama Allah, ini yang agak sulit dicari tahu. Sampai sejauh ini, pendekatan saya adalah tidak gegabah menuduh suatu makanan haram karena masalah penyembelihan ini kita tidak tahu persisnya. Kita hanya dapat menghakimi yang tersurat, tapi tidak yang tersirat. Ikhtiar saya sampai di sana.
  4. Saya akan mengatakan bahwa mungkin ada indikasi bahwa makanan yang disajikan mungkin tidak halal jika memang dalam menu jelas-jelas tertulis menyajikan khamr (seperti bir, wine, dll). Meskipun restoran tersebut dalam menu utamanya tidak menggunakan ingridient wine ataupun babi. Namun, saya agak mengkhawatirkan terjadinya pencampuran makanan. Apakah itu halal atau tidak, saya serahkan kembali kepada masing-masing pribadi. Sebagian orang beranggapan bahwa selama tidak memabukkan berarti tidak apa-apa. Sementara sebagian yang lain beranggapan, tercampur satu tetes saja maka makanan tersebut sudah haram. Saya bukanlah pihak yang cukup kompeten dalam memutuskan kehalalan ataupun keharamannya. Namun, sebagai pribadi, tentu saya memiliki opini.
  5. Untuk restoran yang menyajikan babi, tentu saja saya tidak akan mereviewnya karena indikasi tidak halalnya sangat kuat.

 

Catatan Halal

 
 
Saya cenderung lebih berhati-hati jika mencoba makanan western dan makanan chinese. Ini dikarenakan dalam masakan western ataupun chinese food, ingridient originalnya kadang ada yang mengandung khamr. Misalnya saja arak masak untuk berbagai masakan chinese, balsamic vinegar untuk berbagai masakan western, atau mirin untuk berbagai masakan jepang. Namun demikian, saya tetap tidak berani menuduh suatu masakan itu halal atau haram karena saya tidak mengetahui detail proses bagaimana makanan itu dibuat. Hanya saja, kalau di sebuah restoran nampak sebuah ingridient yang tidak halal, saya akan katakan bahwa ada indikasi makanan itu tidak halal. Pernah suatu kali saya makan di sebuah restoran western yang ramai, di sana saya menemukan rasa yang sedikit asing. Pas pulang, saya lihat ada botol balsamic vinegar dengan taste red wine berjejer. Indikasi makanan tersebut tidak halal cukup kuat. Akhirnya kami tidak pernah lagi makan di sana.

Meskipun demikian, itu memang opini pribadi. Benar atau tidaknya, saya serahkan kepada masing-masing pembaca untuk mengambil keputusannya masing-masing. Selamat berwisata kuliner!