Rasa Steak ala Hotel dari Holycow

Ada sebuah tempat steak yang direkomendasikan teman saya untuk dicoba. Waktu itu, restonya hanya buka di jakarta. Teman saya yang kerjanya tidak jauh dari tempat itu selalu mengajak ke sana kalau main ke Jakarta. Pokoknya kalau ke jakarta saya traktir deh, begitu katanya (asik betul punya teman yang semangat nraktir haha). Kata dia, setelah mencoba steak di sana, dia tidak ingin makan steak di tempat lain. Tapi kami selalu gak kesampaian makan di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, tempat ini buka cabang di Bandung, di jalan RE Martadinata tepatnya. Nama restonya adalah Holycow. Temen saya ngasih tau kalau sudah buka cabang. “Buruan cobain restonya“, kata temen saya. Kami pun ke jalan RE Martadinata nyari tempat ini. Udah muter-muter 3 kali di daerah gedung pos, masih belum nemu juga (kayak thawaf aja sampai muter-muter gini). Setelah diamati detail satu persatu, voila! Ternyata ada di deket pom bensin, diapit antara pom bensin dengan richeese factory. Tempatnya nyempil dan bagian mukanya kecil. Kalau ilmu fengshui, tempat ini agak berbentuk gentong, orang cina percaya ini mendatangkan rizki.

Holycow ini ternyata ada 2 manajemen. Awalnya mereka hanya buka di Jalan Radio Dalam, Jakarta. Tetapi, entah karena apa, para pendirinya pecah karena berbeda visi dalam mengelola restoran. Holycow yang pertama bertajuk Holycow Steakhouse by Chef Afit yang dikelola oleh pasangan Afit Dwi Purwanto dan Lucy Wiryono sementara Holycow yang kedua adalah Steak Hotel by Holycow yang dikelola oleh Wanda dan Wynda. Nah, yang ada di Jalan RE Martadinata ini adalah Steak Hotel by Holycow oleh pasangan Wanda dan Wynda. Sebenarnya agak lucu dan membingungkan jika dua manajemen memiliki brand yang sama. Akhirnya, malah bias dan kabur. Jika salah satu manajemen lebih buruk ketimbang manajemen yang lain, tentu akan berimbas ke semua manajemen.

Setelah mencoba pertama kali, kami lumayan ketagihan. Sudah beberapa kali kami makan di sini karena rasa steaknya cocok. Sayangnya, terakhir kali makan di sini, steak yang jenis prime australianya berubah menjadi agak alot. Kami pun enggan ke sini lagi. Nah, kebetulan pas minggu ini, ada wedding yang kami kelola dekat di Jalan RE Martadinata. “Ah, siapa tau teksturnya sudah tidak alot lagi“, begitu pikiran saya. Kami pun memutuskan mencoba makan di sana lagi. Tapi kali ini menunya berbeda. Pilihan steak di sini ada beberapa macam daging, mulai daging prime australia sampai wagyu dari jepang. Istri saya memilih prime australia bagian tenderloin. Bagian tenderloin adalah bagian punuk sapi yang paling lembut. Selain itu, bagian tenderloin tidak ada lemaknya. Biasanya selalu jadi favorit. Sayangnya, prime australia bagian tenderloin hanya tersisa 1 buah siang itu. Saya pun memilih jenis yang lain. Setelah lihat menu-menu yang ada, saya putuskan untuk memilih daging japanese bagian sirloin. Bagian sirloin ini masih memiliki sedikit lemak. Itu sebabnya bagian sirloin biasanya lebih murah ketimbang tenderloin.

Review Restoran Holycow di Bandung

 
Di sini, kita bisa memilih saus yang disajikan untuk steaknya. Dari dulu, kami selalu memilih saus mushroom putih. Saus ini rasanya gurih yang berasal dari whip cream, kalau ditambah jamur champignon rasanya joss mantap. Dalam satu porsi Holycow, juga tersedia kentang dan bayam. Bayamnya di sini rasanya khas yaitu gurih dan segar. Rasa gurihnya datang dari bawang putih yang dicincang. Selain itu, bayam disini punya aroma asap yang menggoda. Salah satu favorit kami memang bayam ini.

Setelah menunggu beberapa waktu, datanglah makanan yang kami tunggu. Ternyata japanese sirloin lebih lembut ketimbang prime australia tenderloin. Lembut sekali dagingnya. Apalagi yang saya pilih dipanggang medium well saja, jadi dagingnya tidak mengeras. Kalau kita pilih well done biasanya sedikit lebih keras. Ada juga yang suka medium rare, tapi medium rare masih terlalu mentah kalau buat saya. Daging prime australia tenderloin-nya juga lembut. Tidak sealot terakhir kali saya makan di sana. Daging di sini nampaknya dimasak menggunakan racikan bumbu western, yang terasa di lidah adalah tekstur bumbu rosemary yang sedikit pedas dan menyengat. Mantap lah rasanya!

Review Restoran Holycow di Bandung

 
Untuk harga, saya rasa harga steaknya masih cukup wajar. Kisaran harganya mulai dari 110.000 -180.000 per porsi, tergantung daging yang kita pilih. Tentu saja, daging wagyu tenderloin itu yang paling mahal. Menurut saya harga tersebut wajar mengingat daging import kualitas premium itu 500rb per kilo. Saya pernah beli di Riau Junction untuk bikin steak sendiri. Kalau saja satu porsi 100-200 gram daging mentah, itu berarti harganya 50.000-100.000 per porsi. Ya wajar kalau dijual 110.000. FYI, HPP produk itu biasanya sekitar 40% dari harga jual karena 60% margin sisanya digunakan untuk operasional, penggajian, dan marketing. Sebenarnya kita bisa saja mengakali dagingnya lebih murah dengan kelembutan yang bagus. Misalnya : pakai daging lokal dan kemudian diproses dengan menambahkan nanas/tenderizer/baking soda. Bisa juga dengan method cooking yang tepat dengan teknik edging. Hanya saja, untuk resto yang menginginkan kesempurnaan, biasanya lebih memilih daging impor karena lebih terstandarisasi hasilnya.

Suasana restonya juga cukup nyaman. Ada pilihan lokasi di dalam resto atau outdoor (di bagian belakang resto). Cocok kalau buat ketemuan trus ngobrol-ngobrol. Dekorasi di sini nampak minimalis tapi tetap elegan. Yang memang bikin susah di sini adalah lokasi resto yang nyempil. Temen saya juga muter-muter agak lama baru ketemu tempatnya. Harusnya di websitenya dijelaskan detail lokasi yang di bandung. Untuk waiter, menurut saya sangat ramah.

Review Restoran Holycow di Bandung

 
Silakan datang ke sini dan rasakan sensasi steak ala hotel dari Holycow.

Website : Steak Hotel By Holycow
Petunjuk Arah Menuju Lokasi Holycow di Bandung :
Jl. R.E. Martadinata No. 79A, Bandung

No Replies to "Rasa Steak ala Hotel dari Holycow"

    Leave a reply

    Your email address will not be published.