Steak Ala Bandung….Ya Suis Butcher

Salah satu restoran yang kami kunjungi berkala adalah restoran Suis Butcher ini. Steak ini sudah lama berdiri sejak saya kuliah di Bandung tahun 1998. Tapi, semasa kuliah, makan di restoran seperti ini rasanya terlalu mewah. Maklum anak kost-an, kami dulu makannya cukup di restoran padang atau warteg dekat kost-an. Membayangkan makan di restoran steak itu rasanya di luar jangkauan. Jauh beda dengan kondisi saat ini. Saya lihat, restoran mahal banyak yang dipenuhi oleh mahasiswa.

Pertama kali mencoba restoran Suis Butcher setelah saya menikah. Istri saya pernah makan di sini saat mahasiswa dan dia cukup menyukainya. Istri saya ini memang doyan steak. Kami sering berburu steak di berbagai lokasi seperti Holycow atau Abuba Steak. Lokasi Suis Butcher yang kami pilih selalu yang berada di Jl. R.E Martadinata karena lebih dekat dengan rumah kami. Pas mencoba pertama kali, waktu itu kalau tidak salah pas buka di bulan Ramadhan, rasanya steak ini bikin klenger. Soalnya besar banget porsi dagingnya. Mantap lah ukurannya. Hanya saja, saat itu saya kurang puas karena dagingnya terasa kurang lembut. Beberapa waktu kemudian, kami iseng coba makan lagi di sana. Setelah tahu bahwa kelembutan daging lokal dan impor itu berbeda, kami tertarik mencoba menu daging impor yang ada di dalam daftar menu.

Di dalam menu, ada 2 menu yang menjadi andalan Suis Butcher. Menu steak ini berada di halaman khusus Chef Suggestion. Menu itu adalah Suis Suntory Beef dan Rib Eye Steak ala Suis. Kami pesan kedua jenis menu itu. Tidak ada penjelasan daging bagian apa suntory itu, tapi perkiraan saya, itu adalah bagian tenderloin. Daging bagian tenderloin adalah bagian paling empuk dari sapi karena otot sapi bagian tersebut jarang digunakan oleh sapi. Biasanya daging ini berada di antara sirloin dan bagian rusuk. Sementara rib eye adalah bagian dari rusuk sapi. Bagian ini mengandung lemak dan cukup lembut. Untuk tingkat kematangan, favorit kami adalah medium well. Tingkat kematangan sapi itu ada beberapa, yaitu very rare,rare, medium, medium well, dan well done. Tingkat kematangan rare masih terlalu mentah buat kami. Bisa bikin eneg. Sementara well done biasanya menjadi agak keras karena juice dagingnya banyak yang sudah keluar. Semakin matang, tentunya semakin keras. Pilihan kami berada di antara medium dan well done. Sayangnya, saat pesan terakhir kali di Suis Butcher, bagian waiternya lupa menanyakan tingkat kematangan sehingga yang disajikan adalah well done. Yah, tidak apa-apa lah. Masih cukup lembut kok menurut saya.

Review Restoran Suis Butcher di Bandung

 

Kalau kami pesan di Suis Butcher, kadang kami mengubah pilihan item menunya. Kami tidak terlalu suka mix vegetable. Sebagai gantinya adalah brokoli dengan saus putih. Begitu juga dengan kentangnya. Biasanya kami ganti kentangnya dari mash potatoes menjadi wedges atau paling tidak french fries. Kentang yang dihaluskan seperti mash potatoes terasa kurang pas buat kami. Seperti makan perkedel. Hehehe. Untungnya, Suis Butcher tidak keberatan mengganti item menu sesuai dengan permintaan kami.

Penyajian menu suntory ini ditambahkan unsalted butter yang membuat rasa makanan menjadi gurih namun rasa gurihnya lembut. Untuk sausnya menggunakan barbeque sauce yang rasanya asam dan manis. Rasa asam dan manis yang pas ini mungkin menggunakan pasta tomat. Beberapa restoran lebih suka menggunakan saus tomat. Hanya saja, saus tomat rasanya terlalu strong dan tidak pas di lidah. Di Suis Butcher ini, menu suntory beef ini juga disajikan dengan tambahan keju yang diletakkan dalam wadah terpisah. Saya kurang tahu jenis keju apa ini, tapi mungkin ini adalah jenis keju Parmigiana yang diserut. Rasa keju ini tidak terlalu strong. Salah satu yang saya suka adalah brokolinya, nampak sangat hijau dan segar. Mungkin direndam dulu dengan air dingin untuk mempetahankan kesegarannya. Untuk pesanan istri saya, sayur yang disajikan adalah sayur bayam dengan tambahan butter.

Review Restoran Suis Butcher di Bandung

 

Review Restoran Suis Butcher di Bandung

 

Review Restoran Suis Butcher di Bandung

 
Selain pesanan di atas, kami juga sudah pernah mencoba makan T Bone Steak ala Suis Butcher dengan ukuran 300 gram. Ukurannya memang lebih besar karena T Bone Steak ini mengandung potongan tulang. Makan T Bone Steak ini berasa banyak banget jadinya. Dinamakan T Bone karena potongan ini memiliki bentuk tulang menyerupai huruf T yang memisahkan bagian tenderloin dari bagian yang lebih besar dari pinggang atas. Daging T Bone Steak ini tidak selembut seperti tenderloin, dan ada bagian lemaknya yang cukup kenyal. T Bone Steak ini disajikan dengan saus barbeque yang berasa sedikit asam dan manis. Selain itu ada tambahan berupa salad dengan saus thousand island dan juga french fries.

Review Restoran Suis Butcher di Bandung

 
Suis Butcher ini nampaknya menyesuaikan dengan kondisi zaman saat ini. Persaingan menu steak saat ini cukup sengit karena banyak kafe dan resto baru bermunculan. Kompetitor baru ini menggunakan konsep berbeda yang mengutamakan desain interior yang cantik dan menyasar segmen anak muda. Biasanya, desain interiornya bergaya rustic yang lagi hits di luar negeri. Suis Butcher sedikit mengubah konsep desain tempatnya menjadi lebih anak muda. Dulu, kursi yang digunakan terasa jadul. Sekarang, semuanya disesuaikan dengan trend restoran saat ini. Good job! Bahkan tampilan menunya pun berubah menjadi lebih simple tetapi tetap cantik. Perubahan konsep ini juga diiringi dengan kenaikan harga (Ah!). Dulunya, suntory beef harganya adalah 85 ribu. Namun, terakhir ke sana harganya sekarang adalah 95 ribu.

Makan steak di sini recommended dari segi rasa, tekstur kelembutan, dan harga. Silakan coba sendiri kalau penasaran dengan steak ala Bandung.
 
Website : Restoran Suis Butcher
Petunjuk Arah Menuju Restoran Suis Butcher di Bandung :
Jalan R.E Martadinata No. 201, Bandung

No Replies to "Steak Ala Bandung....Ya Suis Butcher"

    Leave a reply

    Your email address will not be published.